Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani

Silahkan Download foto-foto Sayyid Muhammad ibn Sayyid Alawi AL-Maliki Al-Hasani( 297 foto-239 mb)
- Foto 1 klik di sini (31 mb)
- Foto 2 klik di sini (38 mb)
- Foto 3 klik di sini (31 mb)
- Foto 4 klik di sini (11 mb)
- Foto 5 klik di sini (17 mb)
Sayyid Prof. Dr. Muhammad ibn Sayyid ‘Alawi ibn Sayyid ‘Abbas ibn Sayyid ‘Abdul‘Aziz al-Maliki al-Hasani al-Makki al-Asy’ari asy-Syadzili lahir di Makkah pada tahun 1365H. Pendidikan pertamanya yakni Madrasah Al-Falah, Makkah, dimana ayah dia Sayyid Alawi bin Abbas al Maliki sebagai guru agama di sekolah tersebut yang juga merangkap sebagai pengajar di halaqah di Haram Makki, bersahabat Bab As-salam
Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama populer dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah ibarat Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki yakni seorang alim ulama yang pertama kali memperlihatkan ceramah di radio Saudi sehabis salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”. Begitu pula ayah dia yakni seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah kalau ada perayaan pernikahan.
Selama menjalankan kiprah da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah sehabis wafat dia yakni Sayyid Muhammadbin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.
Sebagaimana akhlak para Sadah dan Asyraf hebat Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu memakai pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa dipakai dan dikenakan Asyraf Makkah.
Klik tittle di atas untuk baca biografi dia selengkapnya
Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan alasannya yakni ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil yakni ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya.
Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin dia kembali keMakkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, dia diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bab ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup usang dia menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, hingga dia tetapkan mengundurkan diri dan menentukan mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.
Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah dia tidak berpoin kepada ilmu tertentu ibarat di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya sanggup di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua sanggup mendapatkan dan semua sanggup merasakan apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu dia selalu menitik-beratkan untuk menciptakan rumah yang lebih besar dan sanggup menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib hingga Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan bulan puasa dan hari raya dia selalu mendapatkan semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa menentukan golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua menerima penghargaan yang sama dan semua merasakan ilmu bersama-sama.
Dari rumah dia telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke seluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid dia yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 dia yang masuk ke dalam pemerintahan.
Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula dia telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan dia memperlihatkan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun mencar ilmu para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.
Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu mendapatkan hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi insan yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya.
Beliau yakni orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah pemikiran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki.
Beliau selalu mendapatkan dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya.Dalam kehidupannya dia selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan perjuangan menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu problem dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai dia mendapatkan dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim dia di masjidil Haram. Semua ini dia terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan dia selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka mempunyai pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah menerima gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.
Tulisan Beliau
Di samping kiprah dia sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk aktivitas yang bermanfaat bagi agama, dia pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya,semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 dia yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.
Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama,undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai tumpuan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian balasannya dalam pelbagai bidang:
Ayah beliau, Sayyid Alwi bin Abbas Almaliki (kelahiran Makkah th 1328H), seorang alim ulama populer dan ternama di kota Makkah. Disamping aktif dalam berdawah baik di Masjidil Haram atau di kota kota lainnya yang berdekatan dengan kota Makkah ibarat Thoif, Jeddah dll, Sayyid Alwi Almaliki yakni seorang alim ulama yang pertama kali memperlihatkan ceramah di radio Saudi sehabis salat Jumat dengan judul “Hadist al-Jumah”. Begitu pula ayah dia yakni seorang Qadhi yang selalu di panggil masyarakat Makkah kalau ada perayaan pernikahan.
Selama menjalankan kiprah da’wah, Sayyid Alwi bin Abbas Almaiki selalu membawa kedua putranya Muhammad dan Abbas. Mereka berdua selalu mendampinginya kemana saja ia pergi dan berceramah baik di Makkah atau di luar kota Makkah. Adapun yang meneruskan perjalanan dakwah sehabis wafat dia yakni Sayyid Muhammadbin Alwi Almaliki dan Sayyid Abbas selalu berurusan dengan kemaslahatan kehidupan ayahnya.
Sebagaimana akhlak para Sadah dan Asyraf hebat Makkah, Sayyid Alwi Almaliki selalu memakai pakaian yang berlainan dengan ulama yang berada di sekitarnya. Beliau selalu mengenakan jubbah, serban (imamah) dan burdah atau rida yang biasa dipakai dan dikenakan Asyraf Makkah.
Klik tittle di atas untuk baca biografi dia selengkapnya
Setelah wafat Sayyid Alwi Almaiki, anaknya Sayyid Muhammad tampil sebagai penerus ayahnya. Dan sebelumnya ia selalu mendapatkan sedikit kesulitan alasannya yakni ia merasa belum siap untuk menjadi pengganti ayahnya. Maka langkah pertama yang diambil yakni ia melanjutkan studi dan ta’limnya terlebih dahulu. Beliau berangkat ke Kairo dan Universitas al-Azhar Assyarif merupakan pilihanya.
Setelah meraih S1, S2 dan S3 dalam fak Hadith dan Ushuluddin dia kembali keMakkah untuk melanjutkan perjalanan yang telah di tempuh sang ayah. Disamping mengajar di Masjidi Haram di halaqah, dia diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bab ilmu Hadith dan Usuluddin. Cukup usang dia menjalankan tugasnya sebagai dosen di dua Universiatas tsb, hingga dia tetapkan mengundurkan diri dan menentukan mengajar di Masjidil Haram sambil menggarap untuk membuka majlis ta’lim dan pondok di rumah beliau.
Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah dia tidak berpoin kepada ilmu tertentu ibarat di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya sanggup di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua sanggup mendapatkan dan semua sanggup merasakan apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu dia selalu menitik-beratkan untuk menciptakan rumah yang lebih besar dan sanggup menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib hingga Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan bulan puasa dan hari raya dia selalu mendapatkan semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa menentukan golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua menerima penghargaan yang sama dan semua merasakan ilmu bersama-sama.
Dari rumah dia telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke seluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid beliau, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid dia yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 dia yang masuk ke dalam pemerintahan.
Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula dia telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan dia memperlihatkan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun mencar ilmu para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.
Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu mendapatkan hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Beliau ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi insan yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya.
Beliau yakni orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah pemikiran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki.
Beliau selalu mendapatkan dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengan thariqahnya.Dalam kehidupannya dia selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan perjuangan menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu problem dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Beliau tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai dia mendapatkan dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta’lim dia di masjidil Haram. Semua ini dia terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan dia selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka mempunyai pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah menerima gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja’ dan reference di negara-negara mereka.
Tulisan Beliau
Di samping kiprah dia sebagai da’i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk aktivitas yang bermanfaat bagi agama, dia pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya,semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 dia yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.
Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Beliau telah menulis dalam pelbagai topik agama,undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai tumpuan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian balasannya dalam pelbagai bidang:
Aqidah:
1.Mafahim Yajib an Tusahhah
2.Manhaj As-salaf fi FahmAn-Nusus
3.At-Tahzir min at-Takfir
4.Huwa Allah
5.Qul Hazihi Sabeeli
6.Sharh ‘Aqidat al-‘Awam
Tafsir:
1.Zubdat al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an
2.Wa Huwa bi al-Ufuq al-‘A’la
3.Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ulum al-Quran
4.Hawl Khasa’is al-Quran
Hadith:
1.Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
2. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi ‘Ilm Mustalah al-Hadith
3. Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
4. Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik
Sirah:
1. Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
2. Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
3. ‘Urf al-Ta’rif bi al-Mawlid al-Sharif
4. Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M’iraj Khayr al-Bariyyah
5. Al-Zakha’ir al-Muhammadiyyah
6. Zikriyat wa Munasabat
7. Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra
Usul:
1. Al-Qawa‘id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
2. Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
3. Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari‘ah al-Islamiyyah
Fiqh:
1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa ‘Alamiyyatuha
2. Labbayk Allahumma Labbayk
3. Al-Ziyarah al-Nabawiyyah bayn al-Shar‘iyyah wa al-Bid‘iyyah
4. Shifa’ al-Fu’ad bi Ziyarat Khayr al-‘Ibad
5. Hawl al-Ihtifal bi Zikra al-Mawlid al-Nabawi al-Sharif
6. Al-Madh al-Nabawi bayn al-Ghuluww wa al-Ijhaf
Tasawwuf:
1. Shawariq al-Anwar min Ad‘iyat al-Sadah al-Akhyar
2. Abwab al-Faraj
3. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar
4. Al-Husun al-Mani‘ah
5. Mukhtasar Shawariq al-Anwar
Lain-lain:
1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah)
2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-‘Asabiyyah (Kajian Berkaitan
Orientalis)
3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam)
4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da‘wah ila Allah (Teknik Dawah)
5. Ma La ‘Aynun Ra’at (Butiran Syurga)
6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam)
7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi‘ wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan
Pengalaman)
8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin)
9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan)
10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan)
11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah)
12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi)
13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk
beliau, As-Sayyid Abbas)
14. Al-‘Uqud al-Lu’luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa
beliau, As-Sayyid Alawi)
15. Al-Tali‘ al-Sa‘id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan
Ijazah)
16. Al-‘Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)
Senarai di atas merupakan antara kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan banyak penghasilan turath yang telah dikaji, dan diterbitkan buat pertama kali, dengan nota kaki dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, derma As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke aneka macam bahasa.
Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) yakni salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang insan yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan mengambarkan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan memakai sumber-sumber dalil mereka.
Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya dia dilarang, bahkan kedudukan dia sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak memperlihatkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah memakai nalar dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu(pengetahuan) dan tasawwuf.
Pada simpulan hayatnya yang berkenaan dengan adanya insiden teroris di Saudi Arabia, dia mendapatkan permintaan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana dia menerima kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya wacana thatarruf atau yang lebih poluler disebut pemikiran yang
beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana dia telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran dia wacana da’wah selalu menerima sambutan dan penghargaan
masyarakat luas.
Pada tg 11/11/1424, dia menerima kesempatan untuk memperlihatkan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya dia selalu menggaris-bawahi akan perjuangan menyatukan bunyi ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.
Beliau wafat meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alwi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak sanggup disebut satu persatu disini . Beliau wafat hari jumat tg 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’ladisamping kuburan istri Rasulallah Khadijah binti Khuailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan dia seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada dikala itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang tiba dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negri. Semuanya menyaksikan
hari terakhir dia sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah dia sehabis disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melaksanakan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin
Abdul Aziz dan Amir Sultan tiba ke rumah dia untuk memperlihatkan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidakbisa dilupakan umat.
Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) yakni salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang insan yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan mengambarkan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan memakai sumber-sumber dalil mereka.
Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai “seorang yang sesat”. Beliau pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya dia dilarang, bahkan kedudukan dia sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Beliau ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak memperlihatkan kepahitan dan keluh kesah. Beliau tak pernah memakai nalar dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu(pengetahuan) dan tasawwuf.
Pada simpulan hayatnya yang berkenaan dengan adanya insiden teroris di Saudi Arabia, dia mendapatkan permintaan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti “Hiwar Fikri” di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q’idah 1424 H dengan judul “Al-qhuluw wal I’tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah”, di sana dia menerima kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya wacana thatarruf atau yang lebih poluler disebut pemikiran yang
beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana dia telah meluncurkan sebuah buku yang sangat popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul “Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama”. Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran dia wacana da’wah selalu menerima sambutan dan penghargaan
masyarakat luas.
Pada tg 11/11/1424, dia menerima kesempatan untuk memperlihatkan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya dia selalu menggaris-bawahi akan perjuangan menyatukan bunyi ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da’wah.
Beliau wafat meninggalkan 6 putra, Ahmad, Abdullah, Alwi, Ali, al- Hasan dan al-Husen dan beberapa putri-putri yang tidak sanggup disebut satu persatu disini . Beliau wafat hari jumat tg 15 ramadhan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma’ladisamping kuburan istri Rasulallah Khadijah binti Khuailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan dia seluruh umat muslimin yang berada di Makkah pada dikala itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang tiba dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negri. Semuanya menyaksikan
hari terakhir dia sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah dia sehabis disembahyangkan di Masjidil Haram ba’da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melaksanakan `aza’. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin
Abdul Aziz dan Amir Sultan tiba ke rumah dia untuk memperlihatkan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidakbisa dilupakan umat.
Semoga kita sanggup meneladani beliau. Amien.
"TINTA ULAMA LEBIH MULIA DARI DARAH SYUHADA !"
Sumber:
http://www.almihrab.com/
http://muslimdelft.nl/titian_ilmu/biografi/assayyid_muhammad_ibn_alawi_almaliki_
pembina_calon_ulama_indonesia_3.php
http://www.asyraaf.com/v2/manaqib.php?op=2&id=15
www.kisah.web.id
Komentar
Posting Komentar