Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

First Love

Bajunya berwarna coklat di balut jilbab hitam, menggendong seorang bayi dan menuntun anak berumur sekitar 7 tahun juga. Anaknya yg besar merengek minta di belikan es buah yg kebetulan penjualnya ada di depanku. Dengan senyum beliau menuruti seruan anaknya. Anggun.. Yah kemaren waktu ke pasar sungguh ga di sangka2 bertemu seseorang "pernah" jd temen special..hihi, itupun ga nyangka klo dia. Awalnya saya ngeliat seseorang yg beli es buah di depan ku, ga sengaja sih mandangnya coz emang kebetulan penjualnya deket dg parkir spdku. Aku perhatikan beliau lebih seksama trus saya mencoba menelusuri ingatanku...sepertinya saya pernah lihat mata ini nih..(swear ga GR...hehe), trus ku pandang lagi dia..dan beliau pun scr ga sengaja jg liat ke arah aku..serrr jantungku berdegup dengan kencang.., yah masih kelihat keteduhan wajah itu...(cieh....).ku coba memanggil namanya...tapi mulutku seakan terkunci. Moment yg terjadi hanya beberapa detik ternyata bisa menciptakan saya terbang ke masa ...

Mancing

Tadi waktu ke net naik bus,duh penuh lagi.hmm...siap2 bangun nih..., tengok kanan tengok kiri msh blm ada dingklik kosong, ya udah wis bangun di deket pintu aja nemenin kondekturnya. Sekitar 15 menitan bangun ada ibu2 yg turun, alhamdulillah akibatnya saya sanggup duduk sambil berdoa dalam hati "semoga nanti tidak ada ibu2 yg naik bis ini lagi semoga saya ga ngalah" kecuali seorang c*****k.kwkwkwkwk Duduk di samping orang yg berumur setengah kurun sedang membawa tas panjang dan sudah sanggup di tebak klo ia mau mancing.Hmm hobi yg sama nih...:P, so niscaya nyambung klo di ajak ngobrol.hehe. "Bade mancing pak?" kalimat awal untuk membuka percakapan dengan ia sepenjang perjalanan. Ngobrol dari A smpe Z, seputar dunia mancing , wacana umpan yg bagus, cuaca yg sempurna untuk memancing,rangkaian, dan banyak lagi lah. Dan yg ga pernah saya fikirkan yaitu dari hobi yg di anggap hina oleh kebanyakan orang (mancing hanya membuang2 waktu, hobinya orang malas, menghabiskan u...

Ah, Mosok Gusti Alloh Ndeso.... Gitu?

Sebuah goresan pena menarik dari cak Nun (Emha Ainun Nadjib,udah usang juga di buatnya , tapi untuk ketika ini tampaknya masih layak juga koq untuk direnungkan:). Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akhir laga lari, mana yang sampeyan pilih?" Cak Nun menjawab lantang, "Ya nolong orang kecelakaan." "Tapi sampeyan kan dosa alasannya ialah tidak sembahyang?" kejar si penanya. "Ah, mosok Allah udik gitu," jawab Cak Nun. "Kalau saya menentukan shalat Jumat, itu namanya mau masuk nirwana tidak ngajak-ngajak," katanya lagi. "Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke nirwana orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi". Bagi kita yang me...

Hardiknas (Catatan Yang Terselip)

"Mencerdaskan kehidupan bangsa",sebuah kalimat amanah dr undang2 dasar pastinya dah banyak di hafal sama anak SD di negri ini. Namun amanah yg di gagas 54 tahun yg kemudian bisa di bilang jauh dr harapan. Miris kalau melihat tayangan di tv. Sekolah spt sangkar ternak,bahkan spt gubuk,penyitaan sarana pendidikan oleh pemborong dan lain2. Menyedihkan sekali, pemerintah memang punya standar (baca undang2) yang anggun namun implikasinya jauh dr standar tsb. Di jawa sendiri yg notabene perkembangan pendidikannya bisa di bilang lebih maju dr wilayah lain trnyata infrastruktur yg tdk sesuai dg standar pendidikan sndri. Trus gmn dg kawasan yg di luar jawa?? Anggaran pendidikan yg 20% dr APBN yg konon katanya merupakan anggaran tertinggi dlm sejarah negri ini supaya bukan hanya untuk gambaran politik saja.Memang ada BOS serta bantuan2 lain yg bersifat meringankan beban orang dlm menyekolahkan anak. Namun juga jangan dilupakan betapa dengan mudahnya ditemukan anak usia sekolah yg tidak...

Zzzzzz

Gambar
Awan bergerak kearah barat, membawa lembaran-lembaran kehidupan. Beribu cita-cita berlari kesana kemari . Ku coba langkahkan kakiku yg semakin berat, yach puncak itu sudah terlihat. Peluhku terus mengucur tapi mengapa jiwaku masih terasa hampa??. Angin puncak semakin terasa dingin. Mendekap dekat tubuhku ke alam terbang mencoba menghiburku. Sejenak kupalingkan wajahku ke lembah dalam,hmm...waktu terus berjalan. Aku harus bertahan, ini bukan lah mimpi. Aku harus hingga pada sebuah titik. Titik tanpa koma. Utuh, bulat, sempurna. Masih ku genggam dekat edelwys di tanganku.