Air, Telaga
Banyak hal2 menakjubkan menyangkut air. unsur2 yg terkandung di dlmnya spt H2O hanyalah wajah luar sj dr air. Manfaat apa yg terkandung dlm air dikala air diusapkan ke wajah kita?. Anak2 kecil pernah bertanya wacana wudlu : mengapa orang yg buang angin yg di cuci dan di cuci koq wajah?
Wajah yaitu wakil utama diri dan pribadi. Diri itu essensial, eksklusif itu eksistensial. Diri eksklusif dicuci bukan hanya hars mencapai kondisi yg terbaik, tp jg merasa butuh bersih, rasa suci dan itu syarat untuk percaya diri. Mungkin "membasahi wajah dg air" tdk hanya untuk membersihkan dan menyucikan namun sanggup menuju kebersihan dan kesucian itu sendiri, dg kata lain cuci muka bukan hanya sekedar sugesti yg bersifat subyektif namun merupakan metode yg obyektif.
Manusia, diri, eksklusif dan ilmunya, bersujud. Dengan memerundukkan badan serendah2nya, menyatukan wajah (sebagai lambang diri dan pribadi) dengan tanah. Ketika itu di ungkapkan " Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi, hanya Dialah Yang berhak atas segala puji". Untuk memperoleh puncak kesadaran wacana ketinggian itu dengan sujud, dengan menunduk serendah2nya. Demikian pula Identitas diri, karier dan status pribadinya, serta sgl prestasi ilmu dan teknologinya: disujudkan ke Kehendak Alloh.
Telaga Haudl,Rosululloh Muhammad berjanji akan menemui umatnya di kawasan itu, sahabat bertanya: bagaimana Rosululloh tahu bahwa seseorang itu tergolong umat-Mu?
Rosululloh menjawab : memancarkan cahaya dari mata dan wajahnya. Cahaya itu dihasilkan oleh air wudlu dan bekas sujud. Memang sholat itu pada dasarnya pencahayaan atau pencerahan.
Mesra dan anggun skl komitmen kpd orang2 yg sholat . Dipilihnya kawasan di telaga, bukanya sungai atau samudra, lantaran telaga yaitu kawasan yg jauh lebih romantis drpd sungai atau samudera. Dan kita skr yaitu mirip air yg sekarang sedang menempuh perjalanan sungai yg teramat panjang , bermuara di lautan gelisah yg tdk menentu.
Semoga kelak kita berjumpa di telaga, airnya hening, tenang dan segala kotorannya mengendap ke bawah dan sehingga jiwa kita menjadi bening, segalanya terlihat, jernih dan jujur. telaga kedamaian, telaga muthmainnah.
Dan pertemuan itu yaitu pertemuan cahaya, pertemuan saling memancarkan cahaya.
Cahaya itu sendiri bahan ataukah roh?, yang jelas, cahaya yg tdk dpt dilihat. Yg tampak oleh kta hanya benda yg disinari chy. Mengapa Alqur'an menyampaikan " Alloh itu cahaya langit dan bumi?" bukan mencahayai langit dan bumi?
Kalau nanti insan menemukan pengetahuan gres wacana cahaya, agar dunia akan semakin bersujud, lebih rendah hati dan bersahaja. Kalau kelak nanti mesjid2 lebih percaya kpd lantai drpd permadani, jikalau orang mengurangi kehidupan keperluan menggunakan "sepatu/sandal" maka kehidupan akan semakin sehat, dan kotoran2 jaman modern ini akan terserap.
Seharusnya seluruh penghuni kehidupan modern yg gegap gempita ini membutuhkan wudlu dan sujud. Memerlukan proses perembesan kotoran - back to nature- serta proses pencahayaan yg lebih hakiki. Mungkin sebabnya agama wudlu dan sujud ini tidak berjulukan Salam, melainkan Islam. Salam artinya keselamatan, kemerdekaan. Islam artinya penyelamatan, pembebasan!
disadur dr "Slilit Sang Kiai" (Emha Ainun Nadjib)
Wajah yaitu wakil utama diri dan pribadi. Diri itu essensial, eksklusif itu eksistensial. Diri eksklusif dicuci bukan hanya hars mencapai kondisi yg terbaik, tp jg merasa butuh bersih, rasa suci dan itu syarat untuk percaya diri. Mungkin "membasahi wajah dg air" tdk hanya untuk membersihkan dan menyucikan namun sanggup menuju kebersihan dan kesucian itu sendiri, dg kata lain cuci muka bukan hanya sekedar sugesti yg bersifat subyektif namun merupakan metode yg obyektif.
Manusia, diri, eksklusif dan ilmunya, bersujud. Dengan memerundukkan badan serendah2nya, menyatukan wajah (sebagai lambang diri dan pribadi) dengan tanah. Ketika itu di ungkapkan " Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi, hanya Dialah Yang berhak atas segala puji". Untuk memperoleh puncak kesadaran wacana ketinggian itu dengan sujud, dengan menunduk serendah2nya. Demikian pula Identitas diri, karier dan status pribadinya, serta sgl prestasi ilmu dan teknologinya: disujudkan ke Kehendak Alloh.
Telaga Haudl,Rosululloh Muhammad berjanji akan menemui umatnya di kawasan itu, sahabat bertanya: bagaimana Rosululloh tahu bahwa seseorang itu tergolong umat-Mu?
Rosululloh menjawab : memancarkan cahaya dari mata dan wajahnya. Cahaya itu dihasilkan oleh air wudlu dan bekas sujud. Memang sholat itu pada dasarnya pencahayaan atau pencerahan.
Mesra dan anggun skl komitmen kpd orang2 yg sholat . Dipilihnya kawasan di telaga, bukanya sungai atau samudra, lantaran telaga yaitu kawasan yg jauh lebih romantis drpd sungai atau samudera. Dan kita skr yaitu mirip air yg sekarang sedang menempuh perjalanan sungai yg teramat panjang , bermuara di lautan gelisah yg tdk menentu.
Semoga kelak kita berjumpa di telaga, airnya hening, tenang dan segala kotorannya mengendap ke bawah dan sehingga jiwa kita menjadi bening, segalanya terlihat, jernih dan jujur. telaga kedamaian, telaga muthmainnah.
Dan pertemuan itu yaitu pertemuan cahaya, pertemuan saling memancarkan cahaya.
Cahaya itu sendiri bahan ataukah roh?, yang jelas, cahaya yg tdk dpt dilihat. Yg tampak oleh kta hanya benda yg disinari chy. Mengapa Alqur'an menyampaikan " Alloh itu cahaya langit dan bumi?" bukan mencahayai langit dan bumi?
Kalau nanti insan menemukan pengetahuan gres wacana cahaya, agar dunia akan semakin bersujud, lebih rendah hati dan bersahaja. Kalau kelak nanti mesjid2 lebih percaya kpd lantai drpd permadani, jikalau orang mengurangi kehidupan keperluan menggunakan "sepatu/sandal" maka kehidupan akan semakin sehat, dan kotoran2 jaman modern ini akan terserap.
Seharusnya seluruh penghuni kehidupan modern yg gegap gempita ini membutuhkan wudlu dan sujud. Memerlukan proses perembesan kotoran - back to nature- serta proses pencahayaan yg lebih hakiki. Mungkin sebabnya agama wudlu dan sujud ini tidak berjulukan Salam, melainkan Islam. Salam artinya keselamatan, kemerdekaan. Islam artinya penyelamatan, pembebasan!
disadur dr "Slilit Sang Kiai" (Emha Ainun Nadjib)
Komentar
Posting Komentar